Sustainability Industri Alat Berat Kini Bukan Cuma Soal Emisi, Tapi Juga Efisiensi

Sustainability Industri Alat Berat Kini Bukan Cuma Soal Emisi, Tapi Juga Efisiensi

IEE Series – Engineering Week 2026 menghadirkan enam hybrid stages dengan 26 sesi seminar yang melibatkan 206 thought leaders serta didukung 49 asosiasi dan partner--Pamerindo

Salah satunya Shandong Heavy Industry Indonesia (SDHI) yang membawa sejumlah solusi equipment melalui berbagai brand di bawah naungannya.

Shantui, misalnya, melihat efisiensi bahan bakar sebagai salah satu faktor penting dalam pengembangan alat berat.

Alexander Tangestu dari PT Shantui Equipment Indonesia mengatakan, teknologi yang dikembangkan Shantui dalam sekitar satu dekade terakhir diarahkan agar alat bisa bekerja lebih efisien.

“Efisiensi bahan bakar menjadi salah satu perhatian kami. Teknologi yang telah dikembangkan Shantui selama sekitar sepuluh tahun terakhir diarahkan supaya pengoperasian alat lebih efisien,” ujarnya.

Bagi industri dengan jam kerja alat yang tinggi, penghematan bahan bakar tentu bukan perkara kecil. Konsumsi energi yang lebih rendah bisa ikut memangkas biaya operasional sepanjang siklus penggunaan equipment.

Jadi, sustainability di sini bukan cuma soal mesin yang lebih hijau, tetapi juga bagaimana sebuah alat mampu menghasilkan output optimal dengan sumber daya yang lebih terukur.

BACA JUGA:Serunya Honda Laki Code, Member AHJ-AHMT Kompak Riding Bareng Sambil Pererat Kebersamaan

Elektrifikasi Mulai Masuk ke Area Tambang

Perubahan lain terlihat dari semakin banyaknya teknologi elektrifikasi yang diperkenalkan untuk sektor industri berat.

SANY menjadi salah satu produsen yang membawa solusi rendah karbon melalui electric heavy truck dengan teknologi fast charging yang diklaim mampu melakukan pengisian dalam 50 menit.

Teknologi tersebut ditujukan untuk mendukung aktivitas logistik di tambang skala besar sekaligus mengurangi emisi karbon.

Menariknya, SANY juga mencoba menjawab salah satu tantangan terbesar elektrifikasi di sektor tambang, yakni keterbatasan infrastruktur listrik di lokasi operasi yang jauh dari pusat kota.

Director of Government Affairs and Deputy General Manager SANY Indonesia, Saanjay Shamdasani, menyebut penggunaan teknologi tersebut dapat memberikan efisiensi biaya yang signifikan.

Menurutnya, biaya operasional dapat dipangkas hingga 60 persen dan biaya perawatan hingga 50 persen dibandingkan unit konvensional.

“Visi kami adalah mewujudkan tambang rendah karbon yang terintegrasi secara bertahap dari armada hybrid menuju full electric,” kata Saanjay.

Namun, bukan berarti semua alat berat harus langsung beralih ke tenaga listrik.

Temukan konten otomotifxtra.com menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
jakartaautoweek