Pada tahap berikutnya, perguruan tinggi didorong untuk mengembangkan penerapan TPS secara mandiri. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti setelah program pendampingan selesai.
Selain Universitas Udayana, program serupa telah berjalan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Syiah Kuala, Institut Teknologi Bandung, Universitas Sebelas Maret, Universitas Hasanuddin, Universitas Darma Persada, dan Universitas Indonesia.
Melalui kolaborasi dengan berbagai kampus tersebut, TMMIN ingin membantu mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis.
Para mahasiswa juga diharapkan memiliki pola pikir sistematis, kemampuan menyelesaikan persoalan berdasarkan fakta, serta kebiasaan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
Kompetensi inilah yang semakin dibutuhkan oleh industri manufaktur modern, terutama di tengah perkembangan teknologi dan persaingan bisnis yang bergerak makin cepat.