Niat Hemat Malah Boncos, Ini Bahaya Isi Radiator Mobil Pakai Air Biasa

Niat Hemat Malah Boncos, Ini Bahaya Isi Radiator Mobil Pakai Air Biasa

Isi radiator mobil pakai air biasa bisa memicu kerak, karat, kebocoran, dan overheat. Kenali bahayanya sebelum biaya servis membengkak tanpa disadari.--Dok

OTOMOTIFXTRA.COM -- Mengisi radiator mobil pakai air biasa memang kelihatan lebih murah dan praktis. Namun, kebiasaan ini bisa memicu kerak, karat, kebocoran, hingga mesin overheat yang biaya perbaikannya tidak sedikit.

Asal Sobat tau, radiator itu punya tugas penting dalam menjaga suhu kerja mesin tetap stabil, Sob. Saat mesin hidup, cairan pendingin akan bersirkulasi membawa panas dari mesin menuju radiator. Panas tersebut kemudian dilepas ke udara agar suhu mesin tidak melonjak terlalu tinggi.

Masalahnya, masih ada pemilik mobil yang rutin mengisi radiator menggunakan air keran, air sumur, atau air mineral kemasan karena dianggap lebih hemat. Sekilas memang tidak langsung menimbulkan masalah. Mobil mungkin tetap bisa dipakai seperti biasa dan indikator suhu masih terlihat normal.

Namun, efek buruknya dapat muncul perlahan. Uang yang tadinya ingin dihemat justru berpotensi keluar lebih banyak untuk membersihkan sistem pendingin, mengganti radiator, memperbaiki water pump, atau menangani mesin yang sudah telanjur overheat.

BACA JUGA:Bikin Penasaran, MG Siapkan Model Elektrifikasi Baru di GIIAS 2026

Air Biasa Bisa Meninggalkan Kerak

Air keran dan air sumur umumnya membawa kandungan mineral. Ketika terus terkena panas, mineral tersebut dapat meninggalkan endapan atau kerak di dalam radiator, saluran pendingin mesin, dan selang-selang kecil.

Kerak yang makin tebal bisa mempersempit jalur sirkulasi cairan. Akibatnya, proses pelepasan panas tidak berjalan maksimal. Mesin pun lebih mudah mengalami kenaikan suhu, terutama saat mobil terjebak macet, membawa beban berat, atau dipakai menanjak.

Jangan terkecoh dengan tampilan air yang terlihat jernih, Sob. Air bening belum tentu bebas mineral dan belum tentu aman digunakan untuk jangka panjang di dalam sistem pendingin mobil.

BACA JUGA:Wuling Pamer Air ev di Jakarta X Beauty 2026, Ada Photo & Make Up Challenge

Memicu Karat dan Korosi di Sistem Pendingin

Bahaya berikutnya adalah munculnya karat dan korosi. Air biasa tidak dibekali zat pelindung korosi seperti yang terdapat pada coolant sesuai spesifikasi kendaraan. Dalam pemakaian lama, bagian logam di dalam radiator dan jalur pendingin dapat teroksidasi.

Karat yang terbentuk bisa ikut bersirkulasi bersama cairan, lalu berubah menjadi kotoran berwarna cokelat. Jika dibiarkan, kondisi ini berisiko merusak radiator, thermostat, water pump, sambungan pipa, dan komponen lain dalam sistem pendingin.

Korosi juga dapat menimbulkan lubang kecil atau rembesan. Awalnya mungkin hanya membuat cairan berkurang sedikit demi sedikit. Namun, jika tidak cepat diketahui, coolant bisa habis dan mesin mengalami panas berlebih.

BACA JUGA:Sehabis Diajak Liburan Jauh, Jangan Lupa Cek Kaki-kaki Mobil! Ini Komponen yang Rentan Bermasalah

Titik Didih Air Biasa Lebih Terbatas

Sistem pendingin mobil bekerja dalam suhu dan tekanan tinggi. Air biasa lebih mudah mendidih dibanding coolant dengan campuran serta spesifikasi yang tepat. Ketika cairan mulai mendidih, gelembung uap dapat mengganggu proses perpindahan panas dan sirkulasi di dalam sistem.

Coolant yang sesuai bukan sekadar cairan berwarna. Formulasinya dirancang untuk membantu mengendalikan suhu, mencegah korosi, mengurangi pembentukan endapan, serta melindungi komponen sistem pendingin.

Temukan konten otomotifxtra.com menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya